01 November 2010

Diagnostic Surface Horizons: The Epipedon


The epipedon (Gr. epi, over, upon, and pedon, soil) is ahorizon that forms at or near the surface and in which most ofthe rock structure has been destroyed. It is darkened by organic matter or shows evidence of eluviation, or both. Rock structure as used here and in other places in this taxonomy includes fine stratification (less than 5 mm) in unconsolidated sediments(eolian, alluvial, lacustrine, or marine) and saprolite derived from consolidated rocks in which the unweathered minerals and pseudomorphs of weathered minerals retain their relative positions to each other.
Any horizon may be at the surface of a truncated soil. The following section, however, is concerned with eight diagnostic horizons that have formed at or near the soil surface. These horizons can be covered by a surface mantle of new soil material. If the surface mantle has rock structure, the top of the epipedon is considered the soil surface unless the mantle meets the definition of buried soils in chapter 1. If the soil includes a buried soil, the epipedon, if any, is at the soil surface and the epipedon of the buried soil is considered a buried epipedon and is not considered in selecting taxa unless the keys specifically indicate buried horizons, such as those in Thapto-Histic subgroups. A soil with a mantle thick enough to have a buried soil has no epipedon if the soil has rock structure to the surface or has an Ap horizon less than 25 cm thick that is underlain by soil material with rock structure. The melanic epipedon (defined below) is unique among epipedons. It forms commonly in volcanic deposits and can receive fresh deposits of ash. Therefore, this horizon is permitted to have layers within and above the epipedon that are not part of the melanic epipedon.
29 Oktober 2010

TIPOLOGI PANTAI GLAGAH, KULONPROGO


    Pantai Glagah merupakan salah satu pantai yang terdapat di daerah Glagah, Kulon Progo. Untuk tipologi dari pantai Glagah sendiri bias dimasukkan dalam klasifikasi marine deposition coast. Hal ini dikarenakan pada pantai ini terbentuk karena adanya deposisi dari material sedimentasi oleh marin. Kondisi ini dapat ditunjukkan dengan munculnya barrier coast yang muncul karena sedimentasi dari sungai yang bermuara di lokasi tersebut, kemudian dikenai efek marin mengakibatkan terjadi pembentukan laguna.
    Selain itu, salah satu cirri fisik dari pembentukan marine deposition coast adalah munculnya karakter pantai yang lurus dan datar. Hal ini terlihat terutama jika dikaji dari atas, maka akan terlihat sekali pembentukan daerah pantai ini berupa pantai yang lurus dan datar.
    Proses pengendapan yang terjadi dikarenakan adanya arus dan sedimentasi dari muara yang mengakibatkan terjadinya sedimentasi di daerah pantai. Setelah itu, fenomena tersebut dikenai oleh pengaruh dari gelombang laut, yang menyebabkan sedimentasi tersebut terjadi pengendapan di daerah muara sungai, sehingga pada gambar diatas, dapat terlihat bahwa muncul laguna dan pesisir penghalang.

Contoh Proposal Penelitian



  1. JUDUL
    PEMODELAN SPASIAL UNTUK PEMETAAN DAERAH RAWAN KECELAKAAN DI JALAN KALIURANG


     
  2. LATAR BELAKANG
    Salah satu permasalahan dalam transportasi adalah kecelakaan lalu lintas. Permasalahan ini pada umumnya terjadi ketika sarana transportasi, baik dari segi jalan, kendaraan, dan sarana pendukung lainnya belum mampu mengimbangi perkembangan yang ada di masyarakat. Pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang besar menyebabkan meningkatnya aktivitas pemenuhan kebutuhan yang tentunya meningkatkan pula kebutuhan akan alat trasnportasi, baik itu yang pribadi maupun yang umum. Dengan kondisi angkutan umum yang kurang memadai, masyarakat mengatasinya dengan menggunakan kendaraan pribadi. Pemakaian kendaraan pribadi ini di satu pihak akan menguntungkan, akan tetapi di pihak lain akan menimbulkan masalah lalu lintas ( Tamin, 2000). Permasalahan lalu lintas yang dihadapi salah satunya adalah kecelakaan lalu lintas.

    Permasalahan terhadap meningkatnya tingkat kecelakaan semakin bertambah rumit melihat kenyataan bahwa meskipun sistem prasarana transportasi sudah sangat terbatas, akan tetapi banyak dari sistem prasarana tersebut yang berfungsi secara tidak efisien. Sebagai contoh adalah keberadaan kegiatan informal seperti pedagang kaki lima yang menempati jalur pejalan kaki yang menyebabkan pejalan kaki terpaksa harus menggunakan badan jalan yang tentunya mengurangi kapasitas jalan tersebut. Contoh lain adalah kegiatan parkir pada badan jalan yang berakibat pada berkurangnya kapasitas jalan dan menyebabkan penurunan kecepatan bagi kenaraan yang melalui. Kondisi ini berakibat pada sering terjadinya kemacetan dan meningkatnya angka kecelakaan (Tamin,2000).
Diberdayakan oleh Blogger.

Terpopuler

Pengikut

Earth's news

Weather 3D